www.HorasSumutNews.com – Berita Terbaru – Bermodalkan buku botot dan barang bekas yang dikumpulkan sang ayah yang berprofesi sebagai pemulung Gomos Parulian Manalu tergolong istimewa, bisa mengikuti riset di bawah National Aeronautics and Space Administration (NASA) di San Jose, Amerika Serikat.

Gomos adalah orang Indonesia pertama dengan karya penelitiannya yang dibawa ke luar angkasa oleh NASA. Tak sendiri, dia bersama rekannya Gilbert Nadapdap.

Dua murid berprestasi sekolah Del Laguboti, Tobasa ini berangkat ke Amerika Serikat, Minggu 24 Januari 2016 didampingi dua gurunya Elin Bawekes dan Arini Desianti Parawi.

Namun, Gomos nyaris putus melanjutkan pendidikan. Dirinya terbatas biaya. Padahal dia sudah diterima di Institute Teknologi Bandung, fakultas Sekolah Tinggi Elektronika dan Informatika.

Hal ini lantaran ekonomi orangtua yang memprihatinkan. Juli Rosdiana Hutabarat (41) ibunya hanya penjual roti di terminal, sedangkan Jesman Manalu (39) ayahnya hanya pemulung.

“Kendala kami untuk melanjutkan fakultasnya. Sementara dia sudah diterima di ITB, kami kurang biaya. Dan buat ongkos pun sudah punya lagi. Harapannya, kami minta pemerintah bisa bantu anak kami mencapai cita-citanya,” kata Jesman, di kediamannya Jalan Cemara, Kelurahan Kahean, Kecamatan Siantar Utara, Kamis (4/5/2017)

“Kebetulan aku mandek kerja jadi uang sekolah dia masih menunggak. Kami pun dipanggil Kasek SMA Swasta DEL di Laguboti Balige,Tobasa. Tunggakan 17 juta. Kami cicil 5 juta dan ditambah beasiswa 7 juta. Jadi masih nunggak 5 juta lagi,” beber Jesman.

Gomos sendiri ditanyai terkait prestasinya dan cita-citanya mengatakan pernah ikut penelitian dengan lembaga penelitian luar angkasa di bawah NASA itu International Space Station. Dirinya bercita-cita menjadi pemimpin satu perusahaan.

“Prestasi saya saat itu bersama tim saya dari SMU saya menjadi programer seperti perancang apa yang akan terjadi ketika bahan penelitian (Ragi) sudah sampai di luar angkasa. Cita-cita saya memimpin perusahan di bidang informatika. Pendidikan harapannya bisa S1 informarika, S2 harapannya bisa lanjutkan lagi,” jelas anak pertama lima bersaudara ini.

Juli yang mengetahui kecerdasan dan cita-cita anaknya yang besar mengaku cemas. Dirinya beberapa kali hanya mencoba terus mengais rezeki, sembari meminta Gomos ikut berusaha dan berdoa.

“Harap-harap cemas soal nasib sekolah anakku ini. Karena gak ada dana, kerjaanku cuma jual roti di terminal. Terus akau berusaha kayak mana dia bisa kuliah. Gak kupojokkan dia bilang gak bisa lanjut kuliah. Kubilang lah sabar-sabar lah dan berdoa lah. Harapannya dibantu pemerintah jangab sampai putus sekolahnya,” ungkap Juli.

Gomos juga dikenal unggul untuk beberapa bidang studi termasuk Kimia, Fisika, Bilogi, Bahasa Inggris dan Matematika.

Dia rajin membantu orangtuanya mengumpulkan barang bekas. Ketika mengumpulkan barang bekas milik ayahnya, dia memilah buku yang untuk dapat dibaca. Sewaktu UN SMP dia meminjam buku temannya untuk dibaca agar mendapatkan hasil UN yang maksimal.

Hasil belajarnya yang gigih, Gomos bisa menelurkan riset ‘Micro-Aerobic Fermentation In Space With Micro Gravity’ yang sudah dibawa ke luar angkasa pada 23 Maret 2016 silam, dengan menggunakan roket Atlas 5 dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat.

Saat ini, micro lab rancangan siswa jenius dari kampung Sitoluama Toba Samosir ini sudah mengorbit pada ketinggian sekitar 400 km (low earth orbit) di dalam Cygnus Cargo Freighter. (Dyk)

loading...