Halaman

    Social Items


HorasSumutNews - Lampu hijau yang dinyalakan untuk Gojek dari pemerintah Malaysiamenimbulkan pro dan kontra. Sorotan terutama ditujukan pada sepeda motor yang oleh sebagian pihak di sana dianggap berbahaya.

Ya meski Gojek punya beragam layanan termasuk pengantaran memakai mobil dengan Gocar, pembicaraan di Malaysia banyak terpusat soal layanan sepeda motornya. Menurut Prof Dr Kulanthayan KC Mani dari Universiti Putra Malaysia (UPM), risiko mengendarai sepeda motor lebih tinggi dibanding transportasi lainnya.

"Berdasarkan struktur dasar roda dua, kendaraan ini lebih kurang stabil dan lebih sulit dikendalikan dalam situasi berbahaya. Imbas kecelakaan akan terasa langsung bagi pengendara maupun pembonceng," katanya yang dikutip dari The Sun Daily.

Argumen itu pula yang dipakai CEO perusahaan taksi Big Blue Capital, Datuk Shamsubahrin Ismail. Selain perkataan Indonesia miskin yang jadi kontroversi, dia juga menyinggung soal potensi kecelakaan sepeda motor.

"Pemerintah harusnya menemukan cara menciptakan pekerjaan stabil dan bayarannya bagus untuk anak muda ketimbang mendorong mereka mendapat income sedikit dan menaruh hidup dalam risiko karena kecelakaan motor rankingnya tinggi," sebutnya dalam konferensi pers 22 Agustus silam.

Netizen Malaysia pun beberapa menyuarakan difasilitasinya sepeda motor sebagai ojek online akan menambah semrawut jalanan. "Menambahkan motor di jalanan adalah hal berlawanan saat kita mencoba jadi negara maju," sebut netizen bernama Jeff Sandhu.

Duta besar Malaysia untuk Indonesia, Zainal Abidin Bakar, menyebut Gojek yang telah beroperasi di beberapa negara Asia Tenggara juga cocok mengaspal di Malaysia. Tetapi ia sekaligus menegaskan bahwa keamanan layanan merupakan hal terpenting.

"Meski demikian, masalah keamanan adalah perhatian di Malaysia dan beberapa hal terkait dengan kecelakaan dan asuransi perlu ditangani oleh otoritas," tuturnya kepada Bernama.

Ketika Sepeda Motor Jadi Lakon Pro Kontra Gojek di Malaysia


HorasSumutNews - Lampu hijau yang dinyalakan untuk Gojek dari pemerintah Malaysiamenimbulkan pro dan kontra. Sorotan terutama ditujukan pada sepeda motor yang oleh sebagian pihak di sana dianggap berbahaya.

Ya meski Gojek punya beragam layanan termasuk pengantaran memakai mobil dengan Gocar, pembicaraan di Malaysia banyak terpusat soal layanan sepeda motornya. Menurut Prof Dr Kulanthayan KC Mani dari Universiti Putra Malaysia (UPM), risiko mengendarai sepeda motor lebih tinggi dibanding transportasi lainnya.

"Berdasarkan struktur dasar roda dua, kendaraan ini lebih kurang stabil dan lebih sulit dikendalikan dalam situasi berbahaya. Imbas kecelakaan akan terasa langsung bagi pengendara maupun pembonceng," katanya yang dikutip dari The Sun Daily.

Argumen itu pula yang dipakai CEO perusahaan taksi Big Blue Capital, Datuk Shamsubahrin Ismail. Selain perkataan Indonesia miskin yang jadi kontroversi, dia juga menyinggung soal potensi kecelakaan sepeda motor.

"Pemerintah harusnya menemukan cara menciptakan pekerjaan stabil dan bayarannya bagus untuk anak muda ketimbang mendorong mereka mendapat income sedikit dan menaruh hidup dalam risiko karena kecelakaan motor rankingnya tinggi," sebutnya dalam konferensi pers 22 Agustus silam.

Netizen Malaysia pun beberapa menyuarakan difasilitasinya sepeda motor sebagai ojek online akan menambah semrawut jalanan. "Menambahkan motor di jalanan adalah hal berlawanan saat kita mencoba jadi negara maju," sebut netizen bernama Jeff Sandhu.

Duta besar Malaysia untuk Indonesia, Zainal Abidin Bakar, menyebut Gojek yang telah beroperasi di beberapa negara Asia Tenggara juga cocok mengaspal di Malaysia. Tetapi ia sekaligus menegaskan bahwa keamanan layanan merupakan hal terpenting.

"Meski demikian, masalah keamanan adalah perhatian di Malaysia dan beberapa hal terkait dengan kecelakaan dan asuransi perlu ditangani oleh otoritas," tuturnya kepada Bernama.