Halaman

    Social Items


HorasSumutNews -  Zaman berubah dari yang semula yang serba offline menjelma jadi serba online. Banyak keuntungan yang didapat, tapi ada juga sisi negatifnya seperti cyber bully.

Platform besar seperti Instagram sebenarnya sudah melakukan pembaruan fitur untuk mencegah bully, mulai dari filter komentar, sampai 'pengingat' kepada mereka yang akan mengirimkan komentar negatif sehingga bisa berpikir ulang apakah komentarnya pantas atau tidak.

"Sebenarnya yang mau aku tambahin adalah Instagram atau medsos lainnya kita bisa masukin fitur sekuat mungkin, kembali lagi ke penggunanya," ungkap Putri Silalahi, Manajer Komunikasi Instagram Asia Pasific.

Putri mengaku dukungan literasi digital seperti yang dilakukan di acara 'Aman di Media Sosial' yang digelar Facebook dan Instagram bisa membantu penyebaran informasi. Selain itu, semakin banyak kreator positif, maka makin banyak pula hal baik di media sosial.

"Kita nggak bisa sendiri, kita harus menyelesaikan masalah ini (cyberbully), nggak bisa dari foundation, pemerintahan, atau Instagram semua harus bersama-sama," ujarnya. 

"Contoh Ayla Dimitri, dia dibully tapi bisa bangkit dan membagikan inspirasi dari pelajaran hidupnya," sambung Putri.

Ketentuan Instagram ada digunakan untuk anak di atas 13 tahun, akan tetapi tetap saja ada anak di bawah usia tersebut sudah memiliki akun. Instagram pun dengan tegas akan menghapusnya bila akun tersebut tidak 'dikelola' oleh orang tuanya. 

Kendati demikian, banyak juga orang tua yang tidak mengerti soal Instagram sehingga tidak bisa memberikan edukasi juga terhadap anak.

"Kita berada dalam perubahan era memang, tadinya offline menjadi online, dan kita di masa transisi which is paling susah, nanti generasi setelah kita yang akan menikmati. Tapi kita yang bangun pondasinya dan menentukan ke depannya seperti apa, makanya kita buat panduan untuk orang tua ini," sebutnya. 

Intinya, orang tua harus mulai belajar dan mengenali apa yang anak mereka lakukan di Instagram atau secara online lainnya. Termasuk juga fitur-fitur di dalamnya.

Pastikan anak mem-follow orang yang hanya mereka kenal dan berinteraksi dengan siapa saja.

Orang tua juga bisa membantu dengan memfilter komentar-komentar negatif yang masuk dari orang lain di Instagram sang anak.


"Tapi ternyata bahkan ada orang tua 
nggak paham Instagram bisa di-private, padahal kalau itu di private kan anak lebih bisa diawasi," pungkasnya. 

Banyak Aksi Bullying, Instagram: Fitur Sebagus Apapun Tergantung Penggunanya


HorasSumutNews -  Zaman berubah dari yang semula yang serba offline menjelma jadi serba online. Banyak keuntungan yang didapat, tapi ada juga sisi negatifnya seperti cyber bully.

Platform besar seperti Instagram sebenarnya sudah melakukan pembaruan fitur untuk mencegah bully, mulai dari filter komentar, sampai 'pengingat' kepada mereka yang akan mengirimkan komentar negatif sehingga bisa berpikir ulang apakah komentarnya pantas atau tidak.

"Sebenarnya yang mau aku tambahin adalah Instagram atau medsos lainnya kita bisa masukin fitur sekuat mungkin, kembali lagi ke penggunanya," ungkap Putri Silalahi, Manajer Komunikasi Instagram Asia Pasific.

Putri mengaku dukungan literasi digital seperti yang dilakukan di acara 'Aman di Media Sosial' yang digelar Facebook dan Instagram bisa membantu penyebaran informasi. Selain itu, semakin banyak kreator positif, maka makin banyak pula hal baik di media sosial.

"Kita nggak bisa sendiri, kita harus menyelesaikan masalah ini (cyberbully), nggak bisa dari foundation, pemerintahan, atau Instagram semua harus bersama-sama," ujarnya. 

"Contoh Ayla Dimitri, dia dibully tapi bisa bangkit dan membagikan inspirasi dari pelajaran hidupnya," sambung Putri.

Ketentuan Instagram ada digunakan untuk anak di atas 13 tahun, akan tetapi tetap saja ada anak di bawah usia tersebut sudah memiliki akun. Instagram pun dengan tegas akan menghapusnya bila akun tersebut tidak 'dikelola' oleh orang tuanya. 

Kendati demikian, banyak juga orang tua yang tidak mengerti soal Instagram sehingga tidak bisa memberikan edukasi juga terhadap anak.

"Kita berada dalam perubahan era memang, tadinya offline menjadi online, dan kita di masa transisi which is paling susah, nanti generasi setelah kita yang akan menikmati. Tapi kita yang bangun pondasinya dan menentukan ke depannya seperti apa, makanya kita buat panduan untuk orang tua ini," sebutnya. 

Intinya, orang tua harus mulai belajar dan mengenali apa yang anak mereka lakukan di Instagram atau secara online lainnya. Termasuk juga fitur-fitur di dalamnya.

Pastikan anak mem-follow orang yang hanya mereka kenal dan berinteraksi dengan siapa saja.

Orang tua juga bisa membantu dengan memfilter komentar-komentar negatif yang masuk dari orang lain di Instagram sang anak.


"Tapi ternyata bahkan ada orang tua 
nggak paham Instagram bisa di-private, padahal kalau itu di private kan anak lebih bisa diawasi," pungkasnya.